Subscribe:

Pages

Inilah Kebiasaan Baik Mulai Dilupakan Remaja Zaman Sekarang


Perkembangan teknologi tak dapat dipungkiri menyebabkan terjadinya pergeseran budaya, para pemuda mulai meninggalkan aturan aturan yang telah dilakukan sejak lama dan untuk kebaikan, gaya hidup simple dan praktis membuat kaum remaja mulai melupakan kebiasaan baik, berikut beberapa kebiasaan itu .. 1.Bilang Permisi Kata " permisi ". Mengucapkan kata permisi bila melewati orang di depan orang tua, oranglain, daerah-daerah angker meski kita tidak mengenalnya.namun kenyataannya sekarang Permisi merupakan kata asing bagi anak jaman sekarang padahal bila kita membiasakan diri membiasakannya untuk mengucapkannya. Kata ini tidaklah sulit untuk dilafalkan, namun kenyataannya sangat tidak kebanyakan anak jaman sekarang yang menggunakannya. 2.Cium Tangan Orang Tua Merupakan bentuk penghormatan dari menyesuaikan diri dengan budaya yang dikenal masyarakat, maka hal itu baik, karena menunjukkan bahwa kita memiliki tata etika dan sopan santun yang sesuai dengan metode masyarakat dan juga kebiasaan yang terjadi di dalam suatu budaya atau tata nilai masyarakat tertentu .. 3.Minta Maaf atau Bilang Maaf Kalau berbuat kesalahan atau berjanji tapi tak ditepati, apa kira-kira yang akan Anda lakukan kepada teman, pacar , orangtua, orang lain, atau Tuhan Anda? Minta MAAF. Biasanya kita langsung meminta maaf, dan menyebutkan alasannya walaupun itu merendahkan marbabat kita.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Reddit
Feed

Akibat tidak cuci tangan, Saccharine ditemukan sebagai pemanis buatan



Ilustrasi - Pemanis buatan. (istimewa)
 Derajad rasa manis yang kita rasakan tergantung dari seberapa baik penerima rasa manis di lidah kita berinteraksi dengan molekul-molekul. Semakin kuat interaksi, rasa manis yang dipersepsikan akan semakin manis.

Jakarta (ANTARA News) - Akibat seorang ahli kimia bernama Constantine Fahlberg yang tidak mencuci tangannya sebelum makan malam, setelah seharian bekerja di laboratorium kimianya, dasar pemanis buatan yang dikenal dengan Saccharine ditemukan.
Rasa manis tidak hanya datang dari gula pasir (gula tebu, gula jagung), ada ratusan bahan organik, sintetis, dan senyawa bukan organik yang menghasilkan rasa manis.

Beberapa tanaman yang mengandung gula derivatif dikenal sebagai glikosida.

Derajad rasa manis yang kita rasakan tergantung dari seberapa baik penerima rasa manis di lidah kita berinteraksi dengan molekul-molekul. Semakin kuat interaksi, rasa manis yang dipersepsikan akan semakin manis.

Ilmuwan berkaitan dengan rasa pada sebuah perusahaan bernama Senomyx telah mengidentifikasikan tunas pengecap rasa yang bertanggung jawab apa yang kita sebut sebagai rasa manis.

Gula pasir dan pemanis buatan lain mengikat reseptor ini, kemudian menciptakan sensasi manis yang kita dapatkan ketika memakan mereka.

Reseptor-reseptor ini dapat ditemukan di permukaan sel-sel di atas lidah dan di dalam mulut. Mereka mengirimkan pesan-pesan ke otak untuk memberitahukan otak bahwa kita memakan sesuatu yang manis.

Pemanis buatan adalah senyawa-senyawa yang ditemukan untuk menciptakan rasa manis yang didapatkan dari gula. Beberapa diantaranya termasuk berkalori rendah karena mereka jauh lebih manis ketimbang gula, sehingga membutuhkan jumlah yang lebih sedikit.

Beberapa lainnya lagi termasuk tidak berkalori, karena tubuh kita tidak dapat memetabolisasi pemanis jenis ini. Pemanis buatan jenis ini hanya melewati saluran pencernaan tanpa diserap oleh tubuh.


Pemanis Alami

Pemanis buatan yang berbahan organik contohnya adalah Stevia. Termasuk pemanis alami yang diekstrak dari tanaman yang berasal mula di Brazil dan Paraguay dan telah digunakan sebagai pemanis di beberapa negara.

Rasa manis dari Stevia 300 kali lebih manis daripada gula dan tidak dapat diserap oleh tubuh. Artinya Stevia tidak mengandung kalori.

Penelitian selama ini terhadap Stevia tidak ada reaksi atau efek dari pemanis ini. Sementara beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa pemanis dari Stevia menyebabkan penurunan produksi sperma.

Food and Drugs Agency (FDA) di Amerika Serikat tidak mengijinkan penggunaan pemanis Stevia dalam makanan. tetapi dapat dijual sebagai suplemen tambahan.


Saccharin sebagai dasar penemuan pemanis buatan

Saccharin adalah pemanis buatan pertama, yang ditemukan secara tidak sengaja oleh ahli kimia Constantine Fahlberg yang tidak mencuci tangannya setelah seharian bekerja di kantor.

Tahun 1879, Fahlberg mencoba untuk meneliti penggunaan terbaru dari bahan tar batu bara. Setelah bekerja meneliti di kantornya, Fahlberg pulang ke rumah dan sesuatu yang unik terjadi.

Ia menyadari roti yang dia makan terasa manis. Ia menanyakan kepada istrinya apakah menggunakan gula atau sesuatu hal terhadap rotinya. Tetapi istrinya tidak melakukan sesuatu hal apapun terhadap rotinya.

Fahlberg menyadari bahwa rasa manis datang dari tangannya yang belum dia cuci ketika makan malam.

Pada hari berikutnya Fahlberg kembali ke kantornya dan memulai mencicipi hasil kerjanya sampai dengan dia menemukan titik manis yang diinginkan.

Pemanis buatan lainnya juga ditemukan secara tidak sengaja ketika para peneliti menjilat jari-jari mereka ketika mencoba obat atau merokok sebatang rokok yang ditempatkan didekat senyawa-senyawa yang menghasilkan rasa manis.


Mengapa ada banyak pemanis buatan?

Jawaban dari pertanyaan itu adalah tidak ada satu pemanis yang digunakan setiap produk disebut-sebut untuk pemanis. Sucralose (Splenda) contohnya, digunakan dalam memanggang benda-benda karena tahan terhadap panas.

Sementara itu, Aspartame ditemukan di dalam produk yang disebut sebagai produk bebas gula seperti produk yang berasal dari susu (dairy product), contohnya yogurt.

Dalam produk yang disebut bebas gula, tetap dapat ditemukan pemanis buatan berbentuk cairan atau dapat ditelan seperti obat batuk, vitamin, pasta gigi, dan lain-lain.

Pada laporan terakhir dari Food Commission (Inggris) menemukan bahwa dalam beberapa minuman bersoda rasa jeruk yang tidak dijual dengan lebel "diet", telah menggunakan pemanis buatan.

Aspartame berharga murah hanya dua sen per liter, dibandingkan dengan enam sen perliter untuk gula tebu.

Apabila kita sebagai konsumen tidak ingin menelan pemanis buatan, konsumen harus melihat komposisi label dan mengetahui nama asli produk pemanis buatan tersebut.

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Reddit
Feed

Jamban dan Rp56 triliun


Jamban Rp 56 triliun - ilustrasi. (ANTARANews/Ardika)
 ... "Kebiasaan" atau ketidakmampuan membuat jamban layak itu menimbulkan resiko turunan...
Jakarta (ANTARA News) - Uang negara saban tahun yang terbuang akibat kaitan jamban hingga gaji masyarakat yang hilang dan pendapatan perkapita sangat besar: Rp56 triliun! LSM bergiat di bidang kesehatan dan kemanusiaan, pkpu Lembaga Kemanusiaan Nasional, menyatakan data temuan UNICEF bahwa 26 persen orang Indonesia masih buang air besar di alam terbuka, alias bukan di jamban yang layak.

26 persen warga Indonesia yang perilaku sanitasinya begitu sama dengan 70 juta penduduk Indonesia masih buang air sembarangan. Apa maknanya? Ternyata menurut mereka, dari 100.000 bayi yang lahir di Indonesia, 75 di antaranya meninggal sebelum usia lima tahun akibat terserang diare yang sangat berkorelasi dengan sanitasi umum itu.

Bukan kotoran manusia langsung yang menimbulkan diare bagi anak-anak itu, melainkan melalui air minum dan cuci yang terkontaminasi bakteri diare dari kotoran yang dibuang bukan di jamban-jamban tertutup itu. LSM itu memiliki data bahwa 50.000 anak balita meninggal dunia saban tahun akibat air tercemar itu dan sanitasi buruk.

Lalu, di mana kehilangan Rp56 triliun kerugian uang negara itu? "Kebiasaan" atau ketidakmampuan membuat jamban layak itu menimbulkan resiko turunan, yaitu kerugian produktivitas orang yang sakit, gaji yang harus disisihkan untuk biaya pengobatan juga jaminan asuransi jika yang bersangkutan memiliki, biaya terkait merawat pasien, biaya transportasi yang harus dikeluarkan, dan sebagainya.

Belum lagi kerugian non material, di antaranya waktu produktif yang dikeluarkan, emosi yang dilibatkan, dan lain sebagainya. Kotoran yang dibuang di luar jamban layak pakai itu, selain mengontaminasi air bersih juga mengundang kehadiran bakteri dan virus pembunuh manusia.

Yang paling terkenal adalah tifus, kolera, hepatitis A dan polio. Alih-alih tidak punya kakus alias jamban layak, kerugian yang ditimbulkan sangat besar ternyata.

Menyadari resiko ekonomi, kesehatan, dan sosial akibat ketiadaan jamban layak itu, LSM pkpu Lembaga Kemanusiaan Nasional memiliki program 1.000 jamban. Program itu sederhana saja, menyediakan jamban umum: satu jamban layak didedikasikan bagi 50 orang warga miskin Indonesia dan penempatannya disesuaikan dengan data yang sudah dimiliki.

Menurut mereka, biaya mendirikan satu jamban layak permamen sebanyak Rp6.300.000 saja. Rancangan gambar dasar jamban-jamban umum layak itu juga mereka miliki, lengkap dengan sarana penyediaan air basuh dan tangki penampung kotoran manusia.

Sasaran pertama wilayah penerima program 1.000 jamban itu adalah kawasan padat penduduk dan miskin namun masih terhambat aksesnya atas sarana sanitasi. Dalam hitung-hitungan pembangunan rumah sederhana sehat menurut versi pemerintah, jamban di luar rumah selayaknya memiliki jarak lebih dari tujuh meter dari sumber air bersih layak konsumsi.

Itupun masih dengan syarat tambahan, yaitu tangki penampung kotoran harus dibuat sedemikian rupa lengkap dengan bahan-bahan pengurai, di antaranya imbuhan ijuk dan kapur gunung, serta lubang hawa yang aman.

Makanya, walau remeh namun tanpa jamban layak ternyata negara berpotensi dirugikan sampai Rp56 triliun setahun. Jumlah itu sekitar seperempat dari kucuran dana BOS dari pemerintah. (ANT)

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Reddit
Feed